"Cinta itu simple, tapi gak semudah kata simple. Cinta itu sederhana, tapi gak sesimple sederhana"
Bagian 1:
Aku berjalan mencari sesosok laki-laki yang baru ku kenal kemarin sore. Ku lirik kanan kiri tak ada satupun yang ku kenali. Berulang kali ku klik tombol memanggil di hp ku, tapi tak ada jawaban dari seberang si pemilik hp. “Aiih, kemana sih ni orang” keluhanku mulai tak terpendam.
“Duar” suara dari belakang mengejutkan, dan ternyata benar ini dia farhan.
“Dira, kita ke fakultas pertanian yuk sekarang. Katanya sih ada perkumpulan maba gitu. Oiya, ini kenalin riska anak pertanian juga loh..” aku tertawa melihatnya berbicara, dan seketika aku menyambut tangan riska.
“Ini kita jadi ke fakultas? Ayok deh, keburu panas banget”. “Aelah, gini ni cewek baru gitu aja udah bilang panas” seketika tawa kami bertiga pecah.
Tiba-tiba farhan mengeluarkan ocehannya lagi “ini ni gedung jurusan agrotek.. bentar ya aku mau cari kakak seniornya dulu”
Aku hanya mengangguk tanda mengiyakan.
Farhan bertanya pada kakak senior yang ada di sekitar kami, aku yang sedikit malu langsung memalingkan wajah. Saat itu seorang laki-laki bertubuh jangkung datang tepat ke arahku. Tanpa canggung dia berkata “ada apa ini?” Aku yang saat itu merasa diberi pertanyaan langsung menjawab “ini kak, kami dapat info katanya maba agroteknologi ada dikumpulkan ya kak?” Dengan sedikit bingung ia pun melepaskan gagang pintu yang akan dibukanya dan mengajak kami untuk berbincang.
perbincangan yang diawali dengan perkenalan yang singkat itu membuat aku penasaran dengan siapa sebenarnya orang yang berada tepat dihadanku ini. Bicaranya yang lugas, sopan, terkesan akrab meskipun baru saja kenal. Perbincangan yang tidak berselang lama itu akhirnya berakhir begitu cepat. Tapi aku benar-benar ingin tahu, siapa dia. Farhan dan riska diam-diam memperhatikan langkahku yang semakin lambat dan pandanganku yang kosong.
“Hey dira, kamu kenapa? Hayo.. mikirin kakak tadi?” Tanya riska dengan wajah penasarannya
“Eh, nggak kok” aku benar-benar gak bisa sembunyi dibalik wajahku yang mulai memerah layaknya kepiting rebus.
“Alah, aku tau ni. Pasti ingat-ingat nama kakak itu tadi yaa?” Celoteh farhan yang semakin membuatku salah tingkah. “Aku masih ingat kok, namanya kak Arka”. Farhan dan riska menertawakan aku yang semakin terlihat salah tingkah. Tapi memang benar, aku mencoba mengingat namanya.
Aneh, sampai malam ini pun aku masih mengingatnya. Senyum dan mata ‘elang’nya seakan membiusku. “Tuhan.. apa aku jatuh cinta?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar